Lantai berdebu jadi tikar
Tangannya gagah membantah lenguh
Rayu kepingan logam
Juga helaian kertas pujaan dunia
Dari penapak-penapak kaki
Untuk lapar semalam
Dikenyangkan hari ini.
Tangisnya kering
Kedut-kedut wajah itu kontang
Sekontang hati pejalan-pejalan kaki.
Aneh
Bibirnya banjir
Dengan pujian pada Tuhan
Dan doa yang disimbah
Untuk setiap pejalan kaki
Jiwa tandus tiada empati.
Begitulah hari-hari
Si pelacur doa
Di bumi Hijazi.
No comments:
Post a Comment